Produksi Tebu Tulungagung Tahun 2026 Meningkat, Bongkar Ratoon Jadi Strategi Dongkrak Produktivitas
TULUNGAGUNG (OPTIMIS) – Produksi tebu di Kabupaten Tulungagung menunjukkan tren peningkatan pada musim giling 2026. Di tengah tantangan musim kemarau dan potensi fenomena El Nino, pemerintah daerah bersama pihak terkait mendorong program bongkar ratoon untuk meningkatkan produktivitas sekaligus memperkuat upaya mencapai swasembada gula.
Pelaksana Tugas (Plt.) Bupati Tulungagung, Ahmad Baharudin, menghadiri panen perdana tebu hasil program bongkar ratoon di Desa Bolorejo, Kecamatan Kauman, Kabupaten Tulungagung. Program tersebut merupakan bagian dari upaya nasional untuk meningkatkan hasil produksi tebu melalui peremajaan tanaman.
Ahmad menjelaskan, bongkar ratoon ditujukan untuk meningkatkan produktivitas tanaman tebu secara signifikan. Melalui program ini, lahan seluas satu hektare yang sebelumnya menghasilkan sekitar 60 ton tebu diharapkan mampu menghasilkan 90 hingga 120 ton.
“Target program bongkar ratoon ini bertujuan meningkatkan produksi tanaman tebu. Lahan satu hektare yang semula menghasilkan 60 ton diharapkan bisa naik menjadi 90 hingga 120 ton,” ujarnya.
Untuk mendukung pelaksanaan program, pemerintah memberikan bantuan kepada petani yang mengikuti bongkar ratoon. Bantuan tersebut meliputi subsidi bibit tebu, biaya tenaga kerja, hingga pupuk.
Adapun varietas bibit yang digunakan akan disesuaikan dengan kebutuhan dan permintaan petani agar dapat mendukung pengembangan tanaman tebu di masing-masing lahan.
“Untuk jenis bibit tebu sesuai dengan permintaan petani,” terangnya.
Luas Tanam Tebu Tulungagung Terus Bertambah
Berdasarkan data yang disampaikan, luas lahan tebu di Tulungagung pada musim giling 2025 mencapai 3.862 hektare dengan total produksi sekitar 369.979 ton tebu basah.
Pada musim giling 2026, luas areal tanaman tebu mengalami peningkatan menjadi 4.069 hektare. Sementara itu, pelaksanaan program bongkar ratoon mencakup lahan seluas 151,48 hektare, dengan perluasan areal tanam mencapai 207,3 hektare.
Ahmad berharap program tersebut tidak hanya meningkatkan jumlah produksi tebu, tetapi juga memperbaiki kualitas tanaman. Perluasan areal dan peremajaan tanaman diharapkan dapat memperkuat sektor perkebunan tebu sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi petani.
Menurutnya, peningkatan produktivitas yang diiringi dengan dukungan pemerintah diharapkan mampu mendorong kesejahteraan petani tebu di Kabupaten Tulungagung.
“Hal ini diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi kesejahteraan petani tebu,” paparnya.
Program Bongkar Ratoon Diperluas
General Manager (GM) PG Modjopanggoong Tulungagung, Agus Budi Juwono, menyampaikan bahwa program bongkar ratoon berpotensi meningkatkan hasil panen tebu secara signifikan.
Jika sebelumnya produktivitas tanaman berada di kisaran 60 ton per hektare, melalui program tersebut hasil panen ditargetkan meningkat menjadi 90 hingga 120 ton per hektare.
Agus menyebutkan, pada 2026 luas lahan yang masuk dalam program bongkar ratoon mencapai sekitar 500 hektare. Luasan tersebut direncanakan bertambah pada tahun berikutnya untuk memperluas penerapan peremajaan tanaman tebu.
“Tahun ini luasan tanam tebu dalam program bongkar ratoon sekitar 500 hektare dan tahun depan akan bertambah lagi,” imbuhnya.
Peningkatan produktivitas tanaman diharapkan dapat mendukung pasokan bahan baku bagi industri gula sekaligus memperkuat keberlanjutan usaha perkebunan tebu di Tulungagung.
Produksi Gula PG Modjopanggoong Naik 10 Persen
Selain peningkatan produksi tebu, kinerja produksi gula di PG Modjopanggoong Tulungagung juga menunjukkan perkembangan positif. Agus mengungkapkan bahwa produksi gula perusahaan tersebut meningkat sekitar 10 persen dengan total hasil mencapai 28.000 ton.
Ia juga menyoroti pentingnya rendemen sebagai salah satu indikator kualitas tebu dan keberhasilan produksi gula. Menurutnya, rendemen yang baik berada di atas 8 persen, sedangkan pada tahun sebelumnya angkanya tercatat sekitar 6,5 persen akibat pengaruh musim hujan.
“Batas rendemen bagus di atas 8. Kalau tahun kemarin itu 6,5 akibat musim hujan,” pungkasnya.
Dengan peningkatan luas lahan, dukungan sarana produksi, serta penerapan program bongkar ratoon, sektor perkebunan tebu di Tulungagung diharapkan semakin produktif. Meski demikian, tantangan cuaca dan musim kemarau tetap perlu diantisipasi agar peningkatan hasil panen dapat berlangsung secara berkelanjutan.
Program ini diharapkan menjadi salah satu langkah untuk memperkuat produksi gula nasional sekaligus meningkatkan nilai ekonomi sektor pertanian bagi masyarakat, khususnya para petani tebu di Kabupaten Tulungagung.
